Yuk Kenali Sferositosis


Sumber gambar: halodoc.com

Apa sih yang dimaskud dengan sferositosis?

Sferositosis herediter atau  hereditary spherocytosis (HS)  merupakan suatu kondisi ketika membran sel darah merah mengalami gangguan pada lapisan permukaan. Kondisi tersebut termasuk jenis anemia hemolitik yang dipicu oleh defek molekuler pada beberapa protein sitoskleletal sel darah merah. Ketika kondisi tersebut berlangsung, terjadi perubahan  bentuk pada sel darah merah yang semula berbentuk lapisan tipis dengan cekungan berubah menjadi sferis atau bulat. Bentuk bulat tersebut ternyata tidak lebih fleksibel jika dibandingkan dengan sel darah merah yang normal, sehingga tinggal fleksibilitas pada sel darah merah mengalami penurunan.

            Limpa yang terdapat di dalam tubuh seseorang yang sehat umumnya dapat infeksi dengan sistem daya tahan tubuh. Dalam hal tersebut, limpa bertuga menyaring bakteri dan sel-sel yang rusak dari aliran darah. namun, jika seseorang mengalami sferositosis, limpa akan sulit dilalui oleh sel darah merah karena bentuknya yang bulat dan tingkat flesibiltasnya rendah.

Perubahan bentuk yang terjadi pada sel darah merah terjadi, memicu limpa memecahkan sel-sel dengan lebih cepat. Poses tersebut dinamakan sebagai hemolisis. Pada umumnya, masa hidup sel darah merah mencapai 120 hari. Namun, ketika sferositosis terjadi, maka sel darah merah hanya mempunyai masa hidup selama 10 sampai 30 hari saja. Kondisi tersebut disebabkan kelainan genetik. Seseorang akan mengalami kemungkinan lebih tinggi pengidap kondisi tersebut karena dalam keluarga memiliki riwayat anggota keluarga yang mengalami gangguan tersebut.

Kondisi tersebut memunculkan gejala-gejala yang dapat diamati dan dirasakan oleh seseorang, sehingga seseorang yang mengalami gangguan tersebut dapat lebih cepat mengetahui dan melakukan penanganan yang tepat. Berikut ini tujuh gejala anemia yang muncul pada pengidap sferositosis:

  1. Sering merasakan kelelahan
  2. Mengalami gangguan pernapasan atau sesak napas
  3. Timbul rasa pusing di kepala
  4. Detak jantung tidak beraturan cenderung lebih cepat (palpitalis)
  5. Mengalami perubahan warna kulit menjadi kekuningan.
  6. Mengalami perubahan warna putih pada mata menjadi warna kekuningan.

Perubahan warna pada kulit dan mata tersebut disebabkan oleh pecahnya sel darah merah sehingga pigmen bilirubin dipeaskan ke aliran darah. jika sel darah merah pecah dengan sangat cepat dapat menyebabkan pelepasan bilirubin berlebihan ke ke aliran darah.

            Selain menyebabkan anemia, kondisi tersebut juga dapat menyebabkan ternjadinya batu empedu. Proso terjadinya yakni ketika jumlah bilirubin secara berlebihan masuk ke dalam cairan empedu.  Eberapa gejala yang timbul pada seseorang yang mengalami batu empedu;

  1. Terjadi peubahan warna kulit me jadi kekuningan
  2. Menurunnya nafsu makan
  3. Timbul rasa mual lalu muntah
  4. Mengalami demam
  5. Perut bagian kakan atas terasa nyeri secara tiba-tiba
  6. Punggung kanan terasa nyeri secara tiba-tiba

Bagaimana cara menangani sferositosis?

Untuk emmebrikan penanganan pada kondisi tersebut  bergantung pada faktor penyebab dan tingkat keparahan yang terjadi.  Berikut ini lima cara menangani sferositosis:

  1. Dilakukan pembedahan.

Penanganan tersevut dilakukan apabila dalamtingkat keparahan sedang atau berat. Tujuan dari pembedahan yakni untuk mengangkat limpa sehingga komplikasi dapat dicegah.

  • Kondisi ringan dapat dilakukan pennaganan tnapa operasi  dan pengangkatan limpa.
  • Mengonsumsi vitamin, seperti asam folat dan vitamin B.
  • Melakukan transfusi darah. hal tersebut dilakukan pada tingkat keparahan yang tinggi sehingga memerlukan transfusi darah.
  • Fototerapi. Penanganan tersebut dilakuakn pada bayi yang mengalami kekuningan.

Nah, itulah penjelasan mengenai sferositosis yang perlu anda ketahui. Untuk emmerolh berbagai informasi tentang kesehatan beserta solusinya, anda dapat menemukannya di berbagai jurnal kesehatan.