Ahli gizi ingatkan agar lansia batasi asupan GGL

Jakarta, 26/lima (LINGKAR NEWS) – Ahli gizi menurut Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Dr. Atmarita, MPH mengingatkan supaya geromboln  lanjut usia (lansia) membatasi asupan gula, garam, & lemak (GGL) buat mencegah kemungkinan keluarnya penyakit eksklusif.

 

Menurut kitab   lanjut usia menurut Kementerian Kesehatan, konsumsi GGL yg dianjurkan yaitu gula maksimum empat sdm (50 gram/hari), garam maksimum satu sendok teh (dua gram/hari), & lemak maksimum 5 sdm minyak sayur (67 gram/hari).

 

Pada lansia menggunakan syarat sehat, konsumsi camilan, kopi, goreng-gorengan, atau junk food masih diperbolehkan asalkan sinkron menggunakan batasan jumlah konsumsi yg ditetapkan. Tetapi Atmarita jua mencatat bahwa setiap orang mempunyai batasan jumlah GGL eksklusif sinkron menggunakan syarat tubuh masing-masing.

 

“Penduduk Indonesia telah eksesif konsumsi GGL-nya, jadi musti dilihat (dicek) lagi. Kalau contohnya beliau telah makan nasi (asal karbohidrat) berlebih, lalu masih wajib  minum kopi, ya, kopinya nir perlu gunakan gula, atau hindari kuliner manis. Prinsipnya kebutuhan GGL itu mampu nir berlebihan,” istilah Atmarita waktu dihubungi ANTARA, Kamis.

Inilah Update Daftar UMK Jawa Tengah 2022 PDF

Studi sang Atmarita bersama rekan pada jurnal Persagi menampakan bahwa 29,7 % penduduk Indonesia atau setara menggunakan 77 juta jiwa sudah mengonsumsi GGL melebihi rekomendasi WHO. Studi tadi dilakukan menggunakan menganalisis data Survei Konsumsi Makanan Individu (SKMI) 2014.

 

Atmarita berkata sejumlah risiko penyakit yg bisa timbul terkait menggunakan konsumsi GGL berlebih termasuk obesitas, hipertensi, diabetes, & sebagainya.

 

“Obesitas telah tinggi. Kemudian penyakit nir menularnya berdampak jua. Jadi terdapat orang contohnya obesitas, hipertensi, & diabetes, komplikasi itu telah lebih menurut 50 % (yg menderita pada Indonesia) pada atas usia 18 tahun. Jadi memang risikonya telah tinggi sekali,” katanya.

 

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menampakan prevalensi hipertensi & diabetes melitus semakin tinggi menurut 2013 ke 2018. Pada hipertensi menurut output pengukuran pada atas 18 tahun, angkanya semakin tinggi menurut 25,8 % sebagai 34,1 %. Penderita diabetes melitus pada atas 15 tahun jua semakin tinggi menurut 6,9 % sebagai 8,lima %.

 

Sementara itu, proporsi obesitas dalam dewasa menggunakan usia pada atas 18 tahun jua mengalami peningkatan menurut 14,8 % dalam 2013 sebagai 21,8 % dalam 2018.

 

Atmarita berkata penyakit nir menular sebetulnya bisa dicegah menggunakan menerapkan panduan gizi seimbang pada keseharian. Pedoman tadi diantaranya mengonsumsi kuliner yg beragam, melakukan kegiatan fisik atau berolahraga, memantau berat badan ideal, & mencuci tangan memakai sabun menggunakan air mengalir sebelum & sehabis makan.

 

Atmarita mengingatkan supaya lansia permanen melakukan kegiatan fisik sebagai akibatnya kebugaran tubuh permanen terjaga. Aktivitas fisik bisa berupa menyapu, membersihkan rumah, atau berkebun. Selain itu, lakukan jua latihan fisik ringan misalnya jogging, senam, jalan cepat, atau bersepeda.

 

Adapun berat badan ideal, Atmarita berkata bahwa indeks massa tubuh (IMT) dalam lansia prinsipnya masih sama menggunakan geromboln  usia lainnya, yaitu menggunakan IMT normal antara 18,lima sampai 25.

 

“IMT itu ukurannya berat badan pada kilogram dibagi tinggi badan pada meter kuadrat. Kalau orang tua itu umumnya telah mulai penurunan tinggi badan atau berat badan, akan tetapi prinsipnya permanen saja, 18,lima hingga 25 itu wajib  dijaga,” katanya.